logo-bri
Tutup
Temukan yang Anda Butuhkan
Tidak dapat menemukan apa yang kalian cari?
Carilah jawaban pada halaman FAQ atau arahkan ke kategori konten berikut

BRI Konsisten Salurkan Kredit dengan Prinsip Kehati-hatian, Jaga Pertumbuhan Berkualitas dan Berkelanjutan

20 Agu 2026, 09.24.40

shareCreated with Sketch Beta.
Bagikan
image

Jakarta – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus menjaga momentum pertum-buhan kredit dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan pengel-olaan risiko yang disiplin. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya BRI memastikan ekspansi bisnis berjalan secara sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika perekonomian.


Sebagai bank dengan fokus utama pada pemberdayaan segmen UMKM, BRI memandang pertum-buhan kredit tidak semata-mata diukur dari besarnya penyaluran pembiayaan, tetapi juga dari kuali-tas kredit yang dihasilkan. Oleh karena itu, setiap proses penyaluran kredit dilakukan dengan mem-pertimbangkan profil risiko debitur, prospek usaha, kemampuan membayar, serta kondisi sektor dan industri yang dibiayai.


Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti mengungkapkan bahwa prinsip kehati-hatian menjadi fondasi dalam setiap keputusan penyaluran kredit BRI. Penguatan kualitas aset dilakukan sejak tahap awal melalui proses underwriting yang disiplin, pemantauan kualitas kredit secara berkelanju-tan, serta penerapan sistem early warning untuk mengidentifikasi potensi risiko sedini mungkin.


“BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Na-mun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas. Kami memastikan setiap ekspansi kredit melalui proses asesmen risiko yang memadai sehingga per-tumbuhan bisnis dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Ety.


Dalam menjalankan strategi pertumbuhan, BRI menerapkan pendekatan yang selektif dengan mempertimbangkan karakteristik risiko pada setiap segmen dan sektor ekonomi.  BRI juga terus menyempurnakan  kebijakan perkreditan serta mekanisme monitoring portofolio agar tetap relevan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan profil risiko. Pendekatan tersebut memungkinkan BRI menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan tingkat risiko yang dapat diterima oleh bank.


Di sisi lain, pengelolaan risiko tidak berhenti setelah kredit disalurkan. BRI melakukan pemantauan portofolio secara berkala melalui pendekatan berbasis data untuk mendeteksi perubahan kualitas debitur maupun potensi tekanan pada sektor tertentu.


“Prinsip kami bukan sekadar bagaimana kredit dapat tumbuh, tetapi bagaimana kredit tersebut dapat tumbuh dengan kualitas yang terjaga. Karena itu, kami terus memperkuat proses dari hulu hingga hilir, mulai dari underwriting, monitoring baik on-site maupun off-site, early warning system, hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus,” lanjut Ety.


Pendekatan tersebut menjadi semakin penting mengingat portofolio BRI yang didominasi segmen UMKM dengan karakteristik nasabah yang beragam dan tersebar di seluruh Indonesia. Dengan ba-sis data dan pengalaman panjang di segmen UMKM, BRI terus meningkatkan kemampuan dalam memahami karakteristik dan profil risiko nasabah secara lebih granular.


Sebagai informasi, perbaikan kualitas aset BRI tersebut tercermin dari rasio NPL yang membaik secara Quarter on Quarter (qoq) dari posisi akhir Desember 2025 sebesar 3,07% menjadi 3,01% pada Maret 2026. Selain itu, salah satu indikator risiko kredit yang lebih forward-looking, yaitu rasio Loan at Risk (LaR) juga menunjukkan perbaikan yang signifikan. Rasio LaR turun dari 11,13% pada Maret 2025 menjadi 9,67% di Maret 2026, atau turun 145 basis poin.


BRI juga secara konsisten menjaga kecukupan pencadangan dan permodalan sebagai bagian dari mitigasi risiko serta bantalan untuk menghadapi berbagai potensi tekanan. Langkah ini dilakukan un-tuk memastikan fundamental perseroan tetap kuat dalam mendukung ekspansi bisnis ke depan. Hal ini tercermin dari rasio NPL Coverage yang terjaga pada 179,45% dan rasio LaR Coverage pada 55,75%. Konsistensi tren yang stabil untuk dua rasio tersebut menggambarkan kedisiplinan dalam menjaga tingkat pencadangan risiko sebagai bagian dari implementasi manajemen risiko yang pru-den.